HASIL BATIK UKM ELANG JAWA SUDAH SAMPAI DI SULSEL

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Kain maupun pakaian batik yang beredar di pasaran diproduksi dengan bermacam teknik. Ada tiga teknik yang umumnya dikenal yaitu batik tulis, cap dan printing.

Saat ini telah banayak berdiri pabrik-pabrik pembuatan kain batik. Salah satu sentra batik terdapat di Desa Pilang, Masaran, Sragen, Jawa Tengah.

UKM yang baru saja berdiri adalah UKM Batik Elang Jawa milik Vicky Al Amin yang didirikan pada awal tahun ini.

“Ya, kami baru berdiri pada awal tahun ini dan atas bantuan dari tim Pusat Pengembangan Kewirausahaan Universitas Sebelas Mare, terutama ibu Susantiningrum” katanya

“Sebelumnya saya hanya menggambar motif batik, dan bantu-bantu produksi batik di tempat kakak saya (UKM Batik Ontorejo). Kemudian saya diberi motivasi dan batuan mesin oleh tim PPKwu UNS berupa mesin feeder atau biasa dikenal mesin pewarna batik. Jadilah usaha saya sekarang sudah berkembang seperti sekarang ini” sambungnya.

Pemberian mesin pewarna batik ini didasari oleh kegiatan pengabdian yang dilaksanakan oleh Dosen di Universitas Sebelas Maret.

“Jadi kita barusaha membantu UKM-UKM yang membutuhkan suntikan motivasi, salah satunya Batik Elang Jawa ini. Alhamdulillah saat ini sudah mulai berkembang. Saya juga turut bangga” sambung Kristiandi, salah satu tim pengabdi dari PPKwu UNS

“Alhamdulillah kemarin saya mendapat link kerjasama membuat seragam batik cap untuk Pemerintah Daerah di beberapa Kabupaten di Sulawesi Selatan” lanjutnya.

Saat ini bati cap mulai banyak dipilih oleh konsumen. Contohnya untuk seragam sekolah, kantor pemerintahan hingga perusahaan. Produksi massal ini memerlukan hasil yang seragam dalam waktu relatif singkat.
Di antara ketiga teknik produksi, batik cap dan printing menjadi yang paling tumbuh saat ini. Alasannya karena harga batik cap printing bisa dijual dalam hitungan puluhan ribu rupiah, sedangkan batik tulis bisa mencapai ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

“Paling banyak diminati masyarakat atau konsumen justru yang cap dan print karena konsumen mencari batik dengan harga yang lebih murah. Apalagi untuk produksi massal. Kalau kan mahal,” jelas Susantiningrum, Ketua Pengabdi Universitas Sebelas Maret.

Para pengusaha maupun pedagang pun mengungkapkan hal senada. Permintaan masyarakat akan batik printing meningkat.
“Sebenarnya hampir sama persentase penjualannya, karena masing-masing jenis batis punya segmentasi nya sendiri. Kadang kalau perusahaan pemerintah atau universitas malah mintanya batik yang cap atau tulis, karna yang makai kan pejabat ya” jelas Vicky.